Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Benteng Spiritual dan Pertahanan Keraton Yogyakarta

157
0
Share:
masjid-phatok-3

www.an.tv – Keraton Yogyakarta memiliki empat masjid yang dibangun bersamaan dengan berdirinya Keraton Yogyakarta yang sudah berusia hampir 300 tahun silam.Salah satu masjid yang bangunannya masih asli hingga sekarang adalah Masjid Pathok Negoro Plosokuning. Selain sebagai tempat beribadah, salah satu masjid tertua yang merupakan saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia ini jugamenjadi benteng spiritual dan pertahanan Keraton Yogyakarta pada Zaman penjajahan Kolonial Belanda.

masjid-phatok-5

Masjid Pathok Negoro Plosokuning yang terletak di Desa Minomartani Ngaglik Sleman ini berdiri sekitar tahun 1724, bersamaan dengan berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini merupakan pemberian dari raja pertama Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono I. Keunikan Masjid Pathok Negoro Plosokuning yang dipertahankan sampai sekarang adalah bangunan atapnya yang masih asli, mirip seperti bangunan Keraton Yogyakarta. Ada juga kolam di depan masjid, pohon sawo di pojok masjid,  serta makam di belakang masjid yang tetap terpelihara dengan baik hingga saat ini. Kini Masjid yang sudah berusia ratusan tahun ini juga menjadi objek wisata religi di Sleman, Yogyakarta.

Selain sebagai tempat beribadah, Masjid Pathok Negoro Plosokuning ini dulunya juga sebagai benteng pertahanan pada masa penjajahan kolonial  Belanda yang hingga ratusan tahun bercokol di Indonesia.

“Dalam bahasa Jawa, masjid ini diberi mana Pathok Negoro yang berarti benteng Negara,  yang merupakan bagian dari pembangunan Keraton Yogyakarta pada masa itu, “ ujar Takmir Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Kamaludin Purnomo.

masjid-phatok-11-sholat

Pada bulan suci Ramadhan, Masjid Pathok Negoro Plosokuning ini selalu ramai didatangi jamaah yang ingin beribadah melaksanakan sholat tarawih dan ibadah lainnya. Masjid PathokNegoro Plosokuning  ini juga masih mempertahankan tradisi yang dititipkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, seperti shalawat rodat, nyadran, muludan dan berbagai kegiatan lainnya yang masih bergaya tradisional. Keanekaragaman tradisi ini juga menjadikan Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Kekayaan tradisi dalam bulan suci Ramadhan ini menjadi objek wisata religi yang banyak menarik minat para wisatawan yang dating dari dalam negeri maupun wisatawan mancanegara. Laporan Andri Prasetyo dari Sleman Yogyakarta.

Share:

Leave a reply