Sosok Kartini Masa Kini yang Mengajar Di Pulau Terpencil tanpa diGaji

131
0
Share:
Sosok Kartini Masa Kini Yang Mengajar Dipulau Terpencil Tanpa Digaji

www.an.tv – Menjadi pengajar merupakan sebuah bentuk pengabdian seperti seorang pengajar bernama Uniroh merupakan sosok kartini yang rela pergi mengajar ke pulau terpencil yang jauh dari daerah perkotaan. Sebagai sosok kartini masakini Uniroh melihat banyak anak usia sekolah di Pulau Tegal ini yang tidak dapat mengenyam pendidikan.

Pulau Tegal selama ini dikenal merupakan salah satu destinasi wisata yang indah di Lampung, pulau seluas 98 hektare itu dihuni tak kurang dari 35 keluarga yang tersebar di sekeliling pantai pulau tersebut.

Anak-anak usia sekolah di Pulau Tegal yang termasuk dalam Desa Gebang Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung memerlukan bantuan dari berbagai pihak karena banyak dari mereka belum mengenyam pendidikan formal karena keterbatasan dialami.

Uniroh sebagai sosok kartini melihat banyak anak usia sekolah di Pulau Tegal ini yang tak dapat mengenyam pendidikan. Keadaan ekonomi masyarakat menjadi salah satu alasan kuat sehingga anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah hanya menghabiskan waktu dengan bermain-main saja.

Kondisi yang di alami anak-anak di Pulau Tegal mengusik Uniroh yang juga merupakan seorang guru di SMP N 25 Kabupaten Pesawaran. Untuk membantu anak-anak di kawasan Pulau Tegal Uniroh rela mengajar mereka tanpa mengharapkan imbalan agar anak-anak di Pulau Tegal mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebagai sosok kartini, Uniroh menilai bahwa anak-anak di Pulau Tegal merupakan generasi penerus bangsa yang perlu bantuan dan diperhatikan oleh berbagai pihak untuk masa depan pendidikannya.

Sosok Kartini Masakini Yang Mengajar Dipulau Terpencil Tanpa DigajiDi Pulau Tegal ini tidak ada anak-anak yang mengenyam pendidikan sekolah formal karena jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke sekolah formal terdekat dan ditempat ini tidak tersedia sarana transportasi untuk menuju ke sekolah formal.

Belum lagi latar belakang pendidikan orang tua yang relatif masih rendah sehingga motivasi untuk mendorong pendidikan yang tinggi bagi anak-anak mereka juga menjadi berkurang. Para orang tua umumnya beranggapan yang terpenting anak dapat membaca dan berhitung sehingga nantinya bisa menjadi modal sebagai buruh nelayan atau bertani. Pujiansyah dari Pesawaran Lampung

 

Share:
Machsus Thamrin